Langsung ke konten utama

Mengikat Lalu Mencerna (3)

Bagi yang belum, membaca bagian kedua, bisa baca disini ya 

Kedua, pilih buku yang paling disukai dulu. Meskipun itu komik, novel, buku resep, tidak apa. Asal dari buku itu kita bisa mendapat manfaat baik, gas kan, kata orang Medan. Tidak hanya buku ya, bisa juga majalah, koran atau artikel.

Ketiga, cari tempat yang nyaman dan teman membaca, misal kopi atau teh. Saya tidak sarankan makanan, karena bagi sebagian orang, ada tidak bisa fokus membaca diselingi ngemil. Tapi jika bisa fokus, sah-sah saja.

Keempat. Buat catatan dari apa yang kita baca. Meski bukan resume yang lengkap, paling tidak kita bisa mengikat manfaat dari tulisan yang kita baca. Karena sebaik-baik ilmu adalah menuliskannya (Ali bin Abi Thalib).

Jika Jenuh?

Walaupun membaca punya seabrek manfaat, namun tidak dapat dipungkiri, bahwa rasa jenuh pasti ada. Bagaimana mengatasinya? Menurut Hernowo, kejenuhan dari membaca bisa diatasi dengan menulis. Dengan menulis, otak kita secara tidak langsung memproses informasi yang untuk bisa merangkai kata lalu kalimat, kemudian paragraf lantas menjadi sebuah tulisan. 

Lalu apa yang ditulis? ‘Aku tidak pandai menulis lho’. Sesederhana berbicara, tulis apa yang ingin disampaikan, tulis apa yang telah kita dapat dari bacaan yang kita ‘nikmati.’ Percaya atau tidak, setelah menulis pikiran kita akan lebih plong. Rasanya seperti meluapkan isi pikiran kita. Maka pikiran yang terasa jenuh tadi akan fresh. Kini ada ruang kosong dalam pikiran kita, yang siap menerima berbagai bacaan lagi.

Menulis disini tidak harus di laptop ya, bisa lewat aplikasi word atau catatan di ponsel. Bisa juga dengan secarik kertas. Setelah menulis, simpan. Dan saat kita baca kembali beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, kita bisa takjub pada diri sendiri. Eits, ini bukan NPD ya, tapi lebih seperti rasa surprise yang membuat kita bergumam, ‘kok bisa ya, aku buat tulisan kayak gini?’ 

Kelihatan seru ya? Tentu saja, selain itu juga kita jadi memiliki kebiasaan baru, yaitu menulis. Terlepas dari tulisan itu bagus atau tidak, tetapi kita sudah menjalani kemampuan berbahasa paling tinggi, yaitu menulis.

Sebelum jauh-jauh membahas kualitas tulisan, isi, dll, untuk menulis kita butuh ide. Ibarat pelari, ide adalah garis start untuk memulai pertandingan. Tentu kita harus tahu, dimana letak garis awalnya.

Dalam menulis, ide juga merupakan pondasi awal. Didalam buku Bambang Trim yang berjudul The Art Of Stimulating Idea, ada beberapa trik yang bisa dilakukan untuk mendapatkan ide. Oya, buku ini juga saya rekomendasikan untuk penulis pemula. Bahasanya ringan, mudah dicerna, seolah kita berbicara dengan Pak Bambang langsung. 


Nah, apa saja trik mendapatkan ide tersebut? Saya rumuskan dalam 3 B. Banyak membaca, banyak berjalan dan banyak silaturahim. 

Banyak membaca. Di awal tulisan ini, sudah saya paparkan bahwa dengan membaca kita akan gampang menulis. Segampang saat kita berbicara, karena memori pikiran kita telah banyak berisi gagasan. Cara lebih konkretnya adalah, carilah bacaan yang relate dengan tema yang ingin kita angkat. Belum dapat ide juga? 

Coba B2 yaitu banyak berjalan. Saya teringat saat mengikuti sayembara membuat cerpen, ketika itu saya masih kuliah. Rasanya buntu sekali, maka saya keluar rumah, kemana saya pergi? Rumah kos teman, hahaha. Sedang tidak ingin bertemu teman sebenarnya, tetapi proses perjalanan itu yang kita butuhkan. 

Kita butuh udara segar, pendandangan yang lain dari kamar atau kantor, melihat yang hijau-hijau. Plus saya juga suka berjalan kaki dengan rute yang panjang. Yang saya rasakan, saat berjalan, kita melihat dunia luar, melihat berbagai aktivitas lebih dekat, sambil otak kita terus berusaha berputar mencari ide, namun merasa rileks karena kita bergerak. Yakinlah beberapa saat setelahnya ide muncul. Singkat cerita, dari perjalanan tersebut saya mendapat ide dan cerpen saya masuk dalam 15 cerpen terbaik. 

B yang terakhir yaitu B3, banyak silaturahim atau bertemu dengan orang lain. Dengan bercerita dengan orang lain, akan ada sudut pandang atau pengalaman baru yang didapat. Ini juga dapat memperkaya wawasan juga mengembangkan pola pikir kita, yang nantinya sangat membantu dalam menulis.


Menulis pada dasarnya adalah satu dari sekian kegiatan literasi yang jika kita sabar menekuninya, akan menjadi hal baik. Tidak hanya bagi personal penulis, tetapi juga orag lain sebagai pembaca, sejauh tulisannya memiliki nilai positif. Rupanya ada tulisan yang bernilai negatif? Tentu ada. Tulisan yang isinya ujaran, provokatif yang menjelekkan, atau yang menggiring opini kita pada satu sisi yang buruk, misal berujung fitnah pada seseorang, atau satu hal. Toxic lah, bahasa anak muda sekarang.

Secara khusus, menulis membuat cara berpikir menjadi kritis, sama halnya seperti membaca. Selain menambah wawasan, gagasan juga membangun sudut pandang baru. Satu lagi, saya teringat kata-kata seorang teman yang telah melahirkan 2 buah novel, Abdi Putra, dengan menulis kita sudah meninggalkan warisan pada keluarga atau keturunan kita. Minimal ada jejak yang tertinggal saat kita tiada. 

Mungkin kita tidak mampu se-hebat BJ Habibie dengan banyak kontribusi pada industri penerbangan, atau  Khoirul Anwar dikenal sebagai inovator teknologi jaringan 4G yang berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). 

Menulis dan membaca adalah satu paket komplit. Namun, jika merasa sulit menulis, mulai saja dari membaca. Awalnya mungkin berat karena kita membangun kebiasaan baru, tapi percayalah jika sudah terbangun kebiasaan baik ini, nikmat sekali rasanya. Untuk bisa membaca buku juga tidak perlu biaya besar, kini kita bisa memanfaatkan perpustakaan daerah atau kota, alternatif lain mengunduh aplikasi Ipusnas, untuk bisa membaca buku apa saja yang ingin kita cari. Gratis. 

Hidup hanya sekali. Maka isilah hidup yang hanya sekali ini, untuk hal yang lebih bermakna, minimal tidak membuang waktu untuk hal yang sia-sia. Jadi, buku apa saja yang ingin kamu baca? 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asus, Si Paling Mengerti Kebutuhan Masa Kini

         Menjadi pekerja digital sepertinya mengharuskan kita untuk menguasai beberapa skill terkini, mulai dari kemampuan desain gambar, mencari ide dan mengolah tulisan lewat AI. Menganalisis trend medsos juga. Pokoknya kalau kita gak upgrade ilmu dijamin bakal tertinggal jauh.           Selain upgrade ilmu, sarana yg dipakai tentu juga harus menyesuaikan, seperti laptop atau smartphone yang kita pakai untuk bekerja. Kalo Dewi kasih saran, pakai laptop yang sudah All in one.       Minggu lalu saat mengikuti gathering blogger with Asus, cukup tercerahkan dengan spesifikasi Asus yang aku banget. Maksudnya? Available untuk kita pekerja digital, karyawan atau juga pelajar. Harga juga bervariasi, sesuai spec laptop yang kita cari.  Vivobook S14       Kali ini Dewi mau spill Asus Vivobook S14. Ini tipe yang cocok banget untuk pekerja digital, karyawan juga pelajar. Processor nya memakai Intel Core...

Keju Indrakila, Pelopor Keju Lokal di Indonesia

    Keju, adalah satu dari komposisi bahan yang cukup dikenal. Dalam memasak atau dunia kuliner, keju memberikan cita rasa yang khas. Yang kita tahu, pengolahan keju terdapat di negara-negara barat seperti Belanda, Swiss, Spanyol, Italia, Prancis, Jerman dan Amerika Serikat. Ternyata Indonesia juga sudah memiliki pabrik keju sendiri. Yaitu di Boyolali, Lembang, Yogyakarta dan Bali. Namun pelopor dari seluruh pabrik keju di Indonesia adalah Boyolali. Awal Mula       Kota Boyolali adalah kota pertama yang berhasil memproduksi keju di Indonesia. Ialah Noviyanti, pria asal Boyolali yang mampu mengolah keju lokal dengan rasa internasional yaitu Keju Indrakila. Yang menarik disini, pabrik keju ini berhasil menyerap pekerja lokal, plus keberadaannya juga memberi dampak positif bagi peternak setempat. Gimana ceritanya?      Berawal dari penyerapan hasil panen susu yang kurang maksimal di Boyolali, saat hasil panen sedang tinggi, susu sapi sampai dibuang k...

Asyiknya Meng- Eco Enzim

Kali ini saya ingin cerita tentang hobi baru yang sebenarnya masih relate sama hobi tanam menanam. Yaitu meng-eco enzim. Hehe istilah ini saya buat sendiri, yang artinya membuat eco enzim. Selain mudah membuatnya, eco enzim sendiri memiliki banyak sekali manfaat. Hanya saja kita perlu bersabar karena pembuatannya menunggu masa 3 bulan baru bisa panen.      Eco enzim yang sudah dipanen       Eco enzim sebenarnya bukan istilah baru ya, apalagi bagi pecinta lingkungan. Karena dengan gerakan ini kita bisa meminimalisir sampah organik seperti kulit buah dan sayur-sayuran. Yang sebenarnya hanyalah sampah, ternyata bisa dimanfaatkan menjadi eco enzim. Tinggal menyediakan molase dan wadah saja, maka eco enzim bisa dibuat.       Saya sendiri baru mengenal lebih dalam tentang eco enzim setelah mengikuti seminar tentang pemanfaatan limbah rumah tangga. Asyik sih menurut saya, karena kita hanya perlu mengumpu...