Bagi yang belum, membaca bagian kedua, bisa baca disini ya
![]() |
Kedua, pilih buku yang paling disukai dulu. Meskipun itu komik, novel, buku resep, tidak apa. Asal dari buku itu kita bisa mendapat manfaat baik, gas kan, kata orang Medan. Tidak hanya buku ya, bisa juga majalah, koran atau artikel.
Ketiga, cari tempat yang nyaman dan teman membaca, misal kopi atau teh. Saya tidak sarankan makanan, karena bagi sebagian orang, ada tidak bisa fokus membaca diselingi ngemil. Tapi jika bisa fokus, sah-sah saja.
Keempat. Buat catatan dari apa yang kita baca. Meski bukan resume yang lengkap, paling tidak kita bisa mengikat manfaat dari tulisan yang kita baca. Karena sebaik-baik ilmu adalah menuliskannya (Ali bin Abi Thalib).
Jika Jenuh?
Walaupun membaca punya seabrek manfaat, namun tidak dapat dipungkiri, bahwa rasa jenuh pasti ada. Bagaimana mengatasinya? Menurut Hernowo, kejenuhan dari membaca bisa diatasi dengan menulis. Dengan menulis, otak kita secara tidak langsung memproses informasi yang untuk bisa merangkai kata lalu kalimat, kemudian paragraf lantas menjadi sebuah tulisan.
Lalu apa yang ditulis? ‘Aku tidak pandai menulis lho’. Sesederhana berbicara, tulis apa yang ingin disampaikan, tulis apa yang telah kita dapat dari bacaan yang kita ‘nikmati.’ Percaya atau tidak, setelah menulis pikiran kita akan lebih plong. Rasanya seperti meluapkan isi pikiran kita. Maka pikiran yang terasa jenuh tadi akan fresh. Kini ada ruang kosong dalam pikiran kita, yang siap menerima berbagai bacaan lagi.
Menulis disini tidak harus di laptop ya, bisa lewat aplikasi word atau catatan di ponsel. Bisa juga dengan secarik kertas. Setelah menulis, simpan. Dan saat kita baca kembali beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, kita bisa takjub pada diri sendiri. Eits, ini bukan NPD ya, tapi lebih seperti rasa surprise yang membuat kita bergumam, ‘kok bisa ya, aku buat tulisan kayak gini?’
Kelihatan seru ya? Tentu saja, selain itu juga kita jadi memiliki kebiasaan baru, yaitu menulis. Terlepas dari tulisan itu bagus atau tidak, tetapi kita sudah menjalani kemampuan berbahasa paling tinggi, yaitu menulis.
Sebelum jauh-jauh membahas kualitas tulisan, isi, dll, untuk menulis kita butuh ide. Ibarat pelari, ide adalah garis start untuk memulai pertandingan. Tentu kita harus tahu, dimana letak garis awalnya.
Dalam menulis, ide juga merupakan pondasi awal. Didalam buku Bambang Trim yang berjudul The Art Of Stimulating Idea, ada beberapa trik yang bisa dilakukan untuk mendapatkan ide. Oya, buku ini juga saya rekomendasikan untuk penulis pemula. Bahasanya ringan, mudah dicerna, seolah kita berbicara dengan Pak Bambang langsung.
![]() |
Nah, apa saja trik mendapatkan ide tersebut? Saya rumuskan dalam 3 B. Banyak membaca, banyak berjalan dan banyak silaturahim.
Banyak membaca. Di awal tulisan ini, sudah saya paparkan bahwa dengan membaca kita akan gampang menulis. Segampang saat kita berbicara, karena memori pikiran kita telah banyak berisi gagasan. Cara lebih konkretnya adalah, carilah bacaan yang relate dengan tema yang ingin kita angkat. Belum dapat ide juga?
Coba B2 yaitu banyak berjalan. Saya teringat saat mengikuti sayembara membuat cerpen, ketika itu saya masih kuliah. Rasanya buntu sekali, maka saya keluar rumah, kemana saya pergi? Rumah kos teman, hahaha. Sedang tidak ingin bertemu teman sebenarnya, tetapi proses perjalanan itu yang kita butuhkan.
Kita butuh udara segar, pendandangan yang lain dari kamar atau kantor, melihat yang hijau-hijau. Plus saya juga suka berjalan kaki dengan rute yang panjang. Yang saya rasakan, saat berjalan, kita melihat dunia luar, melihat berbagai aktivitas lebih dekat, sambil otak kita terus berusaha berputar mencari ide, namun merasa rileks karena kita bergerak. Yakinlah beberapa saat setelahnya ide muncul. Singkat cerita, dari perjalanan tersebut saya mendapat ide dan cerpen saya masuk dalam 15 cerpen terbaik.
B yang terakhir yaitu B3, banyak silaturahim atau bertemu dengan orang lain. Dengan bercerita dengan orang lain, akan ada sudut pandang atau pengalaman baru yang didapat. Ini juga dapat memperkaya wawasan juga mengembangkan pola pikir kita, yang nantinya sangat membantu dalam menulis.
Menulis pada dasarnya adalah satu dari sekian kegiatan literasi yang jika kita sabar menekuninya, akan menjadi hal baik. Tidak hanya bagi personal penulis, tetapi juga orag lain sebagai pembaca, sejauh tulisannya memiliki nilai positif. Rupanya ada tulisan yang bernilai negatif? Tentu ada. Tulisan yang isinya ujaran, provokatif yang menjelekkan, atau yang menggiring opini kita pada satu sisi yang buruk, misal berujung fitnah pada seseorang, atau satu hal. Toxic lah, bahasa anak muda sekarang.
Secara khusus, menulis membuat cara berpikir menjadi kritis, sama halnya seperti membaca. Selain menambah wawasan, gagasan juga membangun sudut pandang baru. Satu lagi, saya teringat kata-kata seorang teman yang telah melahirkan 2 buah novel, Abdi Putra, dengan menulis kita sudah meninggalkan warisan pada keluarga atau keturunan kita. Minimal ada jejak yang tertinggal saat kita tiada.
Mungkin kita tidak mampu se-hebat BJ Habibie dengan banyak kontribusi pada industri penerbangan, atau Khoirul Anwar dikenal sebagai inovator teknologi jaringan 4G yang berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing).
Menulis dan membaca adalah satu paket komplit. Namun, jika merasa sulit menulis, mulai saja dari membaca. Awalnya mungkin berat karena kita membangun kebiasaan baru, tapi percayalah jika sudah terbangun kebiasaan baik ini, nikmat sekali rasanya. Untuk bisa membaca buku juga tidak perlu biaya besar, kini kita bisa memanfaatkan perpustakaan daerah atau kota, alternatif lain mengunduh aplikasi Ipusnas, untuk bisa membaca buku apa saja yang ingin kita cari. Gratis.
Hidup hanya sekali. Maka isilah hidup yang hanya sekali ini, untuk hal yang lebih bermakna, minimal tidak membuang waktu untuk hal yang sia-sia. Jadi, buku apa saja yang ingin kamu baca?



Komentar
Posting Komentar