Langsung ke konten utama

Kenali Dulu, Sebelum Melangkah

 Judul Buku : Selesaikan Dulu Dirimu, Sebelum Kamu Menyentuh Tangan Anak Orang

Penulis      : Marhrez Nurcholis

Penerbit     : Bukunesia

Cetakan     : Pertama

Tebal buku : 130 halaman

     Bagi mereka yang memiliki sudut pandang dewasa, menikah bukanlah sebuah pencapaian, tapi pertanda kalau kita sudah siap menuju babak kehidupan baru. Ah, kalimat ini terdengar sok dewasa, bahkan bagiku yang masih ber-status single, meski gak single-single amat, kwkwkw. 

       Tapi tetap saya bercita-cita, ingin menikah, meski kini masih rahasia langit. Pun masih banyak kekurangan yang harus saya perbaiki agar memiliki kehidupan rumah tangga yang lebih baik lagi. 

       Nah, cerita tentang kesiapan menuju gerbang pernikahan, gak cuma mendengar cerita dari sahabat-sahabat kita yang sudah menikah, atau para tetua yang nasehatnya sudah teruji dengan asam garam kehidupannya. Bisa juga mendengar berbagai podcast, ceramah atau baca buku.

       Kali ini saya mau tawarkan opsi yang terakhir, yaitu dari buku. Dengan judul, Selesaikan Dulu Dirimu, Sebelum Kamu Menyentuh Tangan Anak Orang. Jujurly ini judulnya aja udah Gong banget. Dan agak surprisely ternyata yang menulis masih orang Sumut. Yok kita bedah isinya.

      Pada bagian prakata buku ini, penulis memaparkan secara garis besar isi bukunya, bab per bab. Tapi bukan berarti selesai membaca ini, kita langsung tahu isi buku, gak gitu juga konsepnya, hehe. Tapi dari sini penulis lebih meyakinkan, kalau kita gak salah beli dan baca buku. Paham poin per poin bab nya, memastikan kita untuk baca dari awal sampe akhir. Maksa banget gak sih?? Gak juga. Sampai kita paham apa aja maksud si penulis sebenarnya.

       Sebelum memasuki Bab 1, kita diajak diskusi baik-baik yang menyadarkan kita apa saja hal yang membuat kita ragu untuk menikah dan di ‘kulit ari’ ini kita seperti dipaparkan pada kenyataan kini, kenapa Gen Z atau generasi sebelumnya, punya pikiran maca-macam tentang pernikahan. Ntah soal biaya, masa lalu, restu, masih ingin bebas, trauma dll. 

        Kemudian masuk di Bab 1 yang meng-clear-kan masalah diri sendiri dulu. Tentang luka masa lalu, niat kita, visi misi setelah menikah, mindset tentang pasangan dan keluarga, dll. Bab1 ini agak panjang, tapi cukup enak untuk diikuti. Gak ngos-ngosan, dan santai. Sesantai ngobrol sama sohib sendiri. 

      Bab kedua, bagaimana cara mencari restu dan meluluhkan hati para camer, atau calon mertua. Di bab ini saya cukup surprise karena penulis terlihat sangat pengalaman memaparkan ilmu empirisnya. Namun saya akui, semua yang disampaikan,sangat relate dengan kondisi terkini.

      Bab ketiga, setelah beres dengan personal, diri sendiri, saat beralih ke lingkaran terdekatnya, yaitu keluarga. Namun anehnya, alih-alih kita disuruh mengenal siapa calon kita, kita dianjurkan lebih dahulu mengenal bagaimana orang-orang terdekatnya. Seperti  teman, guru dan keluarganya. Karena memang, dari orang-orang terdekatnya, kita bisa kenal bagaimana watak seseorang, dan culture yang dipakai mereka.

     Bab ke empat, lima dan enam, sebaiknya kamu membaca langsung. Dan saya anjurkan baca sampai habis ya, agar kokoh mindset kita tentang sebuah kehidupan bernama pernikahan. 

     Over all membaca buku ini, kita ngerasa santai, karena tidak ada kesan menggurui, tapi seperti ngobrol dengan seorang teman. Gaya bahasanya ringan, dan secara tampilan tulisan, menurut saya ramah di mata ya. Ukuran font tidak terlalu besar atau kecil dan jarak paragraf juga tidak rapat. 

     Referensi yang dipakai juga tidak hanya dari ilmu agama, tetapi juga psikologi, parenting, hingga kesehatan seperti neurologi. Dari banyaknya referensi ini kita bisa mendapat banyak insight. Setelah saya selidik di akhir buku,  penulis ternyata pemegang sertifikat BNSP di bidang Konseling Keluarga. Gak heran ya, hehe

     Kekurangan buku ini adalah, isinya terlalu lengkap, kwkwkw. Ini kayaknya bukan kekurangan juga ya, karena ada contoh bagaimana kita bersikap, refleksi ke diri sendiri, berbagai contoh kasus yang relate dan lain-lain. Memang ada beberapa hal yang kurang detail, seperti bagaimana mengatur keuangan sebelum dan pasca pernikahan, karena ini sudah ranah ekonomi kan, namun sebagai pengantar, sudah memadai. Ya memang kita butuh referensi buku yang fokus membahas menajemen keuangan pribadi atau keluarga.

      Keputusan akhir ada di kamu, untuk sekedar membaca resensi ini saja, atau membuktikan apa yang saya sampaikan tadi. Selamat membaca :)

“Hati yang jujur tidak selalu membawa kita menuju jalan yang mudah, tapi ia selalu membawa kita ke jalan yang benar.” (Imam Al-Ghazali)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asus, Si Paling Mengerti Kebutuhan Masa Kini

         Menjadi pekerja digital sepertinya mengharuskan kita untuk menguasai beberapa skill terkini, mulai dari kemampuan desain gambar, mencari ide dan mengolah tulisan lewat AI. Menganalisis trend medsos juga. Pokoknya kalau kita gak upgrade ilmu dijamin bakal tertinggal jauh.           Selain upgrade ilmu, sarana yg dipakai tentu juga harus menyesuaikan, seperti laptop atau smartphone yang kita pakai untuk bekerja. Kalo Dewi kasih saran, pakai laptop yang sudah All in one.       Minggu lalu saat mengikuti gathering blogger with Asus, cukup tercerahkan dengan spesifikasi Asus yang aku banget. Maksudnya? Available untuk kita pekerja digital, karyawan atau juga pelajar. Harga juga bervariasi, sesuai spec laptop yang kita cari.  Vivobook S14       Kali ini Dewi mau spill Asus Vivobook S14. Ini tipe yang cocok banget untuk pekerja digital, karyawan juga pelajar. Processor nya memakai Intel Core...

Asyiknya Meng- Eco Enzim

Kali ini saya ingin cerita tentang hobi baru yang sebenarnya masih relate sama hobi tanam menanam. Yaitu meng-eco enzim. Hehe istilah ini saya buat sendiri, yang artinya membuat eco enzim. Selain mudah membuatnya, eco enzim sendiri memiliki banyak sekali manfaat. Hanya saja kita perlu bersabar karena pembuatannya menunggu masa 3 bulan baru bisa panen.      Eco enzim yang sudah dipanen       Eco enzim sebenarnya bukan istilah baru ya, apalagi bagi pecinta lingkungan. Karena dengan gerakan ini kita bisa meminimalisir sampah organik seperti kulit buah dan sayur-sayuran. Yang sebenarnya hanyalah sampah, ternyata bisa dimanfaatkan menjadi eco enzim. Tinggal menyediakan molase dan wadah saja, maka eco enzim bisa dibuat.       Saya sendiri baru mengenal lebih dalam tentang eco enzim setelah mengikuti seminar tentang pemanfaatan limbah rumah tangga. Asyik sih menurut saya, karena kita hanya perlu mengumpu...

Keju Indrakila, Pelopor Keju Lokal di Indonesia

    Keju, adalah satu dari komposisi bahan yang cukup dikenal. Dalam memasak atau dunia kuliner, keju memberikan cita rasa yang khas. Yang kita tahu, pengolahan keju terdapat di negara-negara barat seperti Belanda, Swiss, Spanyol, Italia, Prancis, Jerman dan Amerika Serikat. Ternyata Indonesia juga sudah memiliki pabrik keju sendiri. Yaitu di Boyolali, Lembang, Yogyakarta dan Bali. Namun pelopor dari seluruh pabrik keju di Indonesia adalah Boyolali. Awal Mula       Kota Boyolali adalah kota pertama yang berhasil memproduksi keju di Indonesia. Ialah Noviyanti, pria asal Boyolali yang mampu mengolah keju lokal dengan rasa internasional yaitu Keju Indrakila. Yang menarik disini, pabrik keju ini berhasil menyerap pekerja lokal, plus keberadaannya juga memberi dampak positif bagi peternak setempat. Gimana ceritanya?      Berawal dari penyerapan hasil panen susu yang kurang maksimal di Boyolali, saat hasil panen sedang tinggi, susu sapi sampai dibuang k...