Syawal menjadi momen yang dinanti setelah sebulan melakukan rangkaian ibadah full selama Ramadhan. Puasa, shalat sunnah, sedekah, tilawah dll. Hingga di akhir Ramadhan kita telah menyadari telah sampai di ujungnya. Meski sebenarnya ini bukan akhir dari semua. Justru setelah Ramadhanlah segala latihan ibadah kita teruji sebenar-benarnya. Ah, ceramah ini juga sebenarnya untuk self reminder buatku juga.
Sedikit flashback selama Ramadhan kita punya ujian masing-masing. Walau kadang ketika berada di tengah jalan ingin sekali melambaikan bendera putih, sangkin gak sanggupnya. Apa aja ujiannya. Macem-macem ya, ada yang di uji dengan keluarga, pekerjaan, kesehatan, ekonomi, atau kolaborasi dari semuanya, hahaha. (Yang ketawa paling kenceng, aku tau rasanya jadi kamu, :D). Hamdallah semua sudah dilewati ya, bukan terlewati. Dan yang harus lebih di syukuri lagi, masih dipanjangkan umur kita sampai Syawal ini, bisa berkumpul kembali dengan orang-orang tercinta. Karena banyak sekali orang-orang baik yang berguguran, menjelang Ramadhan, ketika Ramadhan atau di penghujung. Semoga amal mereka di terima dan mendapat ampunan disisiNya, Amiiin.
Mau cerita apa sih? Bukan cerita sih, tapi curcol kwkwkw. Jujurly ketika Ramadhan, banyak sekali hikmah yang Dewi dapatkan. Ya Ramadhan ini benar-benar full dengan aneka ujian. Bukan gak bersyukur, tapi aku bisa ambil banyak hikmah dari segala yang dialami. Satu diantaranya adalah sabar. Sabar menghadapi anak yang mau berpuasa tapi banyak drama, sabar menahan amarah, sabar dalam mengajar, sabar dengan kondisi tubuh yang sulit ditebak, sabar dalam kesempitan ekonomi, yang paling akhir sabar menghadapi sakit anak, tepat di hari terakhir puasa. Syukurnya semua mampu terlewati. Dan Allah membalas semua ujian itu dengan baik sekali.
Bisa dibilang, libur lebaran ini menjadi masa-masa tenang, pastinya gak boleh bablas makan dan boros. Aku ingat betul tahun lalu harus diare saat HBH, gak banget kan. Selain itu juga biang banyak penyakit ya, seperti kolesterol, asam urat, gula dkk. Gak boros karena setelah Syawal hidup kita masih berlanjut bro, belanjakan yang memang perlu saja. Kalau berbagi rezeki dalam bentuk THR ke sanak saudara atau kerabat, ya sah-sah saja, sesuaikan dengan kondisi masing-masing ya.
Syawal yang selalu identik dengan silaturahim, jangan sampai lupa. Adab bertamu seperti berkabar jika ingin datang, tidak mengulik hal-hal privasi atau yang menyinggung hati, juga gak ribut soal THR ke anak-anak, kecuali memang diberi tanpa meminta. Hal sederhana namun sering luput, hanya karena kebiasaan yang kurang baik.
Satu lagi yang khas ketika Syawal adalah puasa Syawal. Jika bisa dikerjakan, tentu seperti bonus tambahan bagi amalan Ramadhan kita. Selain juga agar lambung kita rehat dari keterkejutannya mencerna rendang, lontong dan aneka kue hari raya, hehehe. Yang ada bakat kolesterol, asam urat, gula dan darting, terselamatkan.
At least tulisan ini aku persembahkan, karena rindu sekali jari menari di keyboard putih ini. Sekaligus menyapa teman-teman dumay semua. Sayang banget gak nulis padahal bayaran blog jalan terus, huhuhu.
Aku, Dewi, mengucapkan mohon maaf lahir batin ya kawan-kawan. Senang sekali bisa melepas rindu dengan membuat tulisan ringan ini. Semoga bisa konsisten menulis. Kalian gimana, ada cerita unik selama Ramadhan dan Syawal?

Komentar
Posting Komentar